Ayah: Pahlawan Yang Tak Banyak Bicara
by Syarifah Najwa Aisha | | Informasi

Tidak jauh dari hari pahlawan, hari ayah jatuh pada tanggal 12 November.
Ibu memang berperan banyak dalam pertumbuhan dan keharmonisan keluarga, tapi pelengkap dan pengokoh keluarga seutuhnya adalah ayah. Namun, peran ayah sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak.
Ayah bak seorang pahlawan bagi kita. Mungkin kita tidak melihat apa yang ia lakukan, tapi jasa dan pengaruhnya akan selalu membekas pada diri kita.
Ayah diam, namun ayah bertindak.
Ayah diam, namun ayah berpikir.
Ayah diam, namun ayah bergerak.
Diam yang kita anggap acuh, namun menghasilkan banyak harta. Tawa, sedih, kebahagiaan, dan kesuksesan. Ada keringat dan sikap hanya diam mengamati ayah di baliknya.
Itulah ayah.
Apakah sahabat SIHI pernah mendengar jika Indonesia disebut salah satu negara yang masuk dalam tiga besar sebagai ‘fatherless country’?
Walau ternyata pernyataan ini tidak dilandaskan oleh riset yang pasti, namun mendapatkan julukan seperti ini telah menjadi suatu hal yang pilu dan menyayat hati.
Tidak bisa dipungkiri mengetahui kenyataan bahwa perceraian di Indonesia semakin kian meningkat. Walau masih memiliki seorang ayah, namun peran ayah tersebut akan berkurang. Itu sebabnya ‘fatherless country’ ini kembali diperbincangkan.
Baca Juga: Sekolah Islam Harapan Ibu Memperingati Hari Pahlawan
Dampak Jika Anak Mendapatkan Peran Ayah
1. Anak lebih menjadi percaya diri
Pernahkah sahabat SIHI membayangkan betapa bahagianya anak ketika ia diantarkan oleh ayah atau ibu atau kedua orang tuanya ke sekolah?
Anak akan merasa ia bahagia dan merasa aman bisa berangkat sekolah dengan keluarganya. Ketika teman-temannya melihatnya, senyum terhangat akan muncul di wajahnya hingga ia menunjukkan kepercayaan diri.
Ketika memiliki keluarga utuh dan juga penuh kasih sayang, ia akan merasa dunianya indah dan lengkap.
2. Menjadi anak yang disiplin dan pintar
Peran ibu dan ayah tentu berbeda. Ketika anak memperoleh dua nasehat serta arahan dari berbagai sisi dan aspek, anak pun akan melihat dua sudut pandang yang berbeda pula. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang baik dan terus berpikir positif.
Terkadang, ayah akan menjadi sosok yang selalu memberikan cerita dan masukan dengan diiringi oleh canda dan kenyataan yang mungkin terlalu mengerikan. Karena ayah, mereka akan memberikan suatu hal yang nyata tanpa menutupinya.
Anak yang mendengarkan ayah, akan berkhayal dan mengetahui kemungkinan buruk jika mereka ingin melakukan suatu hal. Itu sebabnya mereka akan cenderung berpikir sebelum bertindak.
3. Memiliki sikap berani, sikap mental, dan emosi yang baik
Ayah sangat senang bermain. Ayah cenderung lebih menyukai banyak melakukan kegiatan dengan terjun lapangan dibandingkan ibu yang cenderung lebih teoritis.
Ketika anak belajar bermain sepeda, mereka akan jatuh dan ayah akan memegang tangan kita sembari mengatakan “Tidak apa. Tidak sakit.”
Ketika bermain di tempat kotor ayah akan mengatakan, “Kita harus berani kotor”.
Ketika anak bertemu dengan hewan menyeramkan, “Tidak apa, mereka baik. Coba pegang, mereka tidak akan menggigit”.
Ketika bermain di luar rumah, “Mari kita coba ini! Kalau tidak coba, bagaimana kita tahu rasanya?”
Ketika barang kita rusak, “Tenang saja. Ini akan kembali seperti semula. Ayah akan memperbaikinya.”
Banyaknya kegiatan yang turun ke lapangan langsung ini membuat anak lebih berpikir terbuka, berani, dan memiliki mental yang baik. Mereka akan tenang dan cenderung berpikir dibanding mengeluh.
Karena ayah berkata, “Semua akan baik-baik saja”. Itu yang tertanam dalam benak anak.
4. Anak mampu berperilaku baik terhadap sesama
Bagi anak, ayah adalah panutan terbesarnya.
Bagaimana ayah bertindak, anak akan ikuti, bagaimana ayah menjawab maka anak akan mengikuti, bagaimana ayah memecahkan masalah maka anak ikuti, hingga bagaimana ayah melindungi keluarga maka anak akan ikuti.
Ketika ayah banyak bersosialisasi dengan orang asing secara mudah, membantu sesama walau tidak mengenal, bertanya ketika merasa bingung atau tersesat dengan orang asing di jalan.
Sifat ayah yang berani tersebut, akan membuat anak melakukan hal yang serupa seperti mereka lihat. Mereka tidak akan merasa ragu untuk bertindak, membantu, dan bertanya terhadap sesama. Tidak enggan untuk bersosialiasi pula.
Baca juga: Ayahku, Pahlawan Ku
Dampak Jika Anak Tidak Mendapatkan Peran Ayah
1. Kemiskinan Naik 4 Kali Lipat
Tulang punggung keluarga adalah ayah. Walau terkadang ibu pun turut bekerja, ibu tidak akan menyanggupi seluruh pengeluaran seorang diri.
Kemajuan dunia dan pola pikir memang semakin berubah. Namun, masih ditemukan juga diskriminasi wanita bahkan ketika bekerja. Itu sebabnya, pria jauh lebih mudah dalam mencari kerja.
Tidak hanya itu juga, kemiskinan ini berpengaruh pada aspek kehidupan lainnya seperti kematian bayi yang naik 2 kali lipat dan angka putus sekolah yang naik hingga 9 kali lipat.
2. Kehamilan di Luar Nikah Saat Remaja Naik 7 Kali Lipat
Kurangnya peran ayah, membuat anak perempuan merasa kosong dan merasa tidak aman karena mereka berpikir jika tidak ada yang melindunginya.
Ayah cenderung menjadi sosok yang dapat menilai seseorang dengan cukup baik, terlebih lagi terhadap anak laki-laki yang mendekati anak perempuan mereka.
Ayah akan menilai pasangan anak mereka sesuai dengan bagaimana ia melihat dirinya memperlakukan anaknya dengan baik, bagaimana cara pria itu santun kepada kedua orang tua dari anaknya, hingga aspek lainnya.
Ayah pun akan cenderung menilai dengan mengajak pasangan anak mereka untuk berbicara agar mengetahui sifat asli dan pola pikir mereka. Penilaian laki-laki terhadap laki-laki.
3. Perilaku Agresif dan Kekerasan Naik 11 Kali Lipat
Kurangnya peran ayah juga berpengaruh pada anak laki-laki. Tidak adanya figur atau sosok untuk bermain bersama, berkeluh kesah bersama, mencoba hal baru bersama, membuat emosi anak menjadi naik turun.
Mereka akan cenderung memendam emosi hingga salah meluapkan.
Hal ini juga dapat berujung pada kemungkinan dipenjara, menjadi korban pemerkosaan, dan juga konsumsi alkohol atau obat terlarang. Karena tanpa peran ayah, angka anak yang dipenjara karena kriminalisasi naik 20 kali lipat.
Korban pemerkosaan dan pelecehan seksual naik 9 kali lipat, dan konsumsi alkohol dan obat terlarang naik 10 kali lipat.
Seperti yang dikatakan sebelumnya. Laki-laki tentu saja mengerti dan mengetahui perasaan laki-laki lainnya.
Ayah akan dengan berani menjauhkan anaknya dari kelompok yang tidak baik, agar anak dapat terhindar dari kemungkinan buruk.
Ayah tahu bagaimana anak laki-laki senang berkumpul dan mengikuti teman. Terlalu bebas dan salah memilih teman, itulah yang selalu ayah ingin anak mereka hindari.
Jika kita masih memiliki dan mendapatkan peran ayah, mari kita selalu bersyukur.
Walau bukan sekarang, ayah pasti akan menjadi tempat untukmu kembali dan bertanya.
Dua hari lagi akan menjadi hari ayah, ayo tunjukkan rasa sayang dan rasa syukurmu kepada ayah. Berikan semangat bagi ayah sebelum ia berangkat bekerja untuk menghidupimu dan keluarga.
Jangan lupa selalu do’a untuk ayah dan ibu juga ya…
References






