Sekolah Anti Bullying
by Syarifah Najwa Aisha | | Informasi

Menciptakan dan melatih anak untuk cinta Al-Qur’an, jago bahasa, serta cerdas memang menjadi tugas utama kita sebagai para guru dan lembaga pendidikan. Namun tidak hanya itu, Sekolah Islam Harapan Ibu juga memberikan lingkungan yang aman serta nyaman bagi anak, termasuk menciptakan sekolah “Anti Bullying”.
Salah satu kunci penting yang dimiliki untuk menjalankan sekolah “Anti Bullying” ini adalah guru BK (Bimbingan Konseling). Melalui wawancara atau bimbingan konseling, guru BK akan mencoba memahami dan melihat dari sudut pandang mereka.
Dengan melakukan bimbingan konseling secara intensif, seluruh guru berharap jika anak akan merasakan kenyamanan dan kepercayaan yang lebih ketika berada di lingkungan sekolah. Ms. Icha selaku Guru BK SMP Islam Harapan Ibu pun juga berpikiran yang sama, bahwa sekolah memang seharusnya menjadi tempat aman kedua setelah rumah bagi anak.
Ms. Icha merangkul seluruh anak untuk berpikir jika mereka belajar di sekolah dengan memiliki banyak dukungan. Mereka tidak akan pernah merasa sendiri.
“Saya akan menjadi teman mereka di sini. Setelah memiliki hasil atau data diskusi (bimbingan konseling), saya tidak akan pernah memberikannya kepada siapapun. Terlebih lagi pada orang tua maupun guru dan wali kelas. Saya akan berdiskusi dengan anak untuk bertanya apakah saya boleh memberikan atau bercerita hasil diskusi kepada orang lain atau tidak. Jika memang tidak, saya pun tidak akan melakukannya. Ini juga berkaitan dengan kode etik”.
Guru BK akan menjadi pendukung anak untuk bertumbuh dan berkembang, seorang teman yang mampu menjaga rahasia, hingga menjadi sosok yang dibutuhkan anak. Karena pada dasarnya, pikiran anak akan menjadi lebih tenang dengan bercerita. Dengan begitu, kegiatan pembelajaran pun tidak akan terganggu.
Tonton Juga : Konsultasi Rifky Balweel dan Biby ke SMP Islam Harapan Ibu
Ketika ditanya perihal apakah semua anak diharuskan untuk bercerita atau tidak, Ms. Icha menjawab “tidak” dengan cepat. Karena pada dasarnya, anak tidak bisa dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan.
“Jika memang mereka tidak mau bercerita, saya hanya akan berbicara dengannya mengenai hal lain. Saya tidak akan pernah memaksa apapun dari anak-anak. Tapi di sisi lain, jika mereka sedikit ragu dan belum percaya dengan saya, maka saya akan mencoba untuk mendekatkan diri lagi dengan mereka”.
Dalam hal ini, Sekolah Islam Harapan Ibu memiliki beberapa pendekatan untuk anak-anak, seperti:
Tiga Topik Utama dalam Bimbingan Konseling
Topik Edukasi
Pada tahap ini, guru BK akan bertanya seputar nilai dan pembelajaran. Berikut merupakan contoh point pembahasan:
- “Adakah kendala belajar atau motivasi yang hilang?”
- “Apakah gaya belajar yang digunakan sudah tepat?”
Topik Sosial
Pada tahap ini, guru BK akan bertanya seputar nilai dan pembelajaran. Berikut merupakan contoh point pembahasan:
- “Adakah kendala belajar atau motivasi yang hilang?”
- “Apakah gaya belajar yang digunakan sudah tepat?”
Topik Mental dan Emosi
Pada tahap ini, guru BK akan bertanya seputar emosi. Berikut merupakan contoh point pembahasan:
- “Apakah ada masalah pertemanan yang memang terjadi?”
- “Apakah ada masalah yang berkaitan dengan bullying?”
- “Apakah ada perasaan yang memang sulit untuk diungkap dan tertahan?”
Baca Juga : Bangga! Generasi Emas Lulusan SMA Harapan Ibu
Proses Penanganan : Pra dan Pasca Konseling
- Pra Konseling : Mendengarkan dan memahami masalah yang terjadi
- Post Konseling : Monitoring anak untuk mendapatkan point of view dan memberikan solusi penyelesaian
**
Menjadi Guru BK Tidak Mudah**
Berhasil berada di tahap “guru friendly” atau “guru sebagai teman curhat” tidaklah mudah. Ada fase saat siswa membangun jarak dan menunjukkan perasaan tidak nyaman atau tidak percaya.
Alih-alih menjadi guru yang tegas dan ditakuti oleh siswa, guru BK harus menjadi guru yang ramah dan bertingkah seperti sebaya. Ms. Icha sendiri pun merasakan hal yang sama. Siswa pernah mengatakan “Jangan tegas-tegas sama kita dong, ms…” kepada dirinya. Meskipun begitu, ketegasan tetap diperlukan untuk pengarahan kepada anak agar lebih disiplin, menghormati guru, dan memahami nasehat yang diberikan.
Terkadang, panggilan satu sama lain pun juga mempengaruhi. Ketika biasanya guru memanggil siswa dengan nama, mungkin panggilan lain bisa mulai digunakan sehingga tidak terkesan terlalu formal dan tegang.
Seperti halnya Ms. Icha dengan anak-anak, ia memanggil mereka dengan “aku kamu”. Tapi tetap, jika berada di luar sesi konseling, akan kembali menggunakan “Ms. Icha”.





