Cara Mengajarkan Puasa Kepada Anak Sejak Dini
by Syarifah Najwa Aisha | | Edukasi, Informasi

Puasa merupakan salah satu ibadah dalam Islam yang dilakukan dengan cara menahan diri dari segala hal, salah satu yang utama adalah makanan, minuman, dan hawa nafsu.
Jurnal Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) juga menjabarkan pengertian dari puasa dengan ‘menahan diri dari suatu tindakan’ yang arti ini sendiri berasal dari kata ‘As-Shaum’.
Puasa memiliki fungsi penting dalam kehidupan, terkhususnya untuk kehidupan seorang muslim. Ibadah ini mengajarkan kita untuk memperkuat keyakinan, memperkuat silaturahmi, menjaga ketulusan hati, kepuasan batin, hingga kesehatan diri.
Tahun baru, pengalaman baru. Pernyataan ini memiliki arti jika di tiap tahunnya, akan semakin banyak orang baru yang mulai berpuasa. Seperti para mualaf ataupun anak-anak.
Beberapa hari lagi menuju Ramadhan 2025, saat di mana semua muslim berpuasa selama satu bulan. Pada bulan ini, semua orang akan berlomba untuk menguatkan diri mereka beribadah kepada Allah SWT. Tidak hanya menunggu dalam diam, kita para muslim pun turut membersihkan hati dan jiwa agar dapat menjalankan puasa dengan lancar dan berlapang dada.
Untuk tahun pertama puasa bagi anak-anak akan sangat terasa sulit, karena mereka sudah terbiasa untuk selalu makan dan minum setiap harinya. Beberapa hari awal mungkin mereka akan sedikit terbiasa dan menuruti setiap perintah orang tua, namun untuk hari berikutnya?
Dalam artikel ini, kami akan membantu para orang tua dengan memberikan masukan atau tips untuk mengajarkan puasa kepada anak sejak dini.
Tahap Mengajarkan Puasa Kepada Anak
- Berikan pemahaman mengenai puasa
Pemahaman yang diberikan kepada anak-anak harus dilakukan secara tepat dengan hanya menonjolkan inti utama namun dengan bahasa yang akan mereka pahami.
Jangan berikan bahasa yang terlalu panjang, bertele-tele, atau sulit dipahami. Mereka akan semakin tidak mengerti dan menganggap puasa adalah hal yang sulit untuk dilakukan.
Berikan pemahaman kepada mereka, jika puasa bukanlah ibadah yang sulit.
“Ketika kita berpuasa dengan bersungguh-sungguh, maka kita semakin dekat dengan Allah SWT”,
“Bahkan, jika kita melakukan shalat 5 waktu dengan menjalankan puasa, maka kita akan hidup di surga Allah, di mana semua hal yang kita inginkan ada di sana”.
Imajinasi dan pemikiran mereka akan berjalan ketika mendengar ‘hal yang kita inginkan’. Dengan mendapati pemikiran tersebut, mereka akan bersemangat melakukan puasa.
Hal yang terpenting adalah, berikan pemahaman kepada anak secara perlahan dan tidak ada paksaan. Jelaskan kepada mereka ketika mereka memang ingin mendengarkan. Jika mereka sedang bermain? Maka lakukan setelahnya.
Sebab, tidak setiap anak mampu membagi fokus mereka terhadap dua hal sekaligus. Jika terlalu dipaksakan, maka anak tidak akan paham terhadap apa yang kita katakan, walaupun mereka merespon dan mendengarkan perkataan kita.
Kisah unik diberikan oleh guru sekaligus wali kelas 1 Sekolah Islam Harapan Ibu, Ms. Mai. Ia mendapati seorang anak didiknya yang tengah sakit namun tetap ingin melakukan ibadah puasa. Anak tersebut takut jika ia tidak dapat menjalankan ibadah dengan baik, maka ia akan mendapatkan dosa.
Pentingnya pemberian pemahaman dengan baik kepada anak tergambar melalui kisah tersebut. Berikanlah pemahaman berupa hal baik saja kepada anak, jangan takuti mereka dengan berbagai kemungkinan buruk atau akibat buruk dari tidak melakukan ibadah puasa.

- Biasakan dengan latihan berpuasa
Latihan berpuasa bisa dilakukan sedari jauh hari dan secara kecil-kecilan. Seperti, berpuasa jajan, mengurangi jam makan, mengurangi jumlah cemilan di rumah, hingga berpuasa setengah hari.
Lakukan setiap tahapan secara perlahan hingga anak-anak tidak akan merasa terlalu terkejut dan merasa berat ketika diharuskan untuk berpuasa.
Contoh nyata untuk tahap ini dilakukan juga dengan Ms. Mai. Sebelum memberikan tahapan dalam latihan berpuasa, tentu saja anak-anak diberikan pemahaman terlebih dahulu.
Ms. Mai memiliki 3 tahapan inti yang diberikan dan diajarkan kepada anak-anak. Pada minggu pertama, anak-anak boleh berpuasa hingga jam 10, dilanjut jam 11 pada minggu kedua, kemudian jam 12 pada minggu ketiga, hingga seterusnya.
Terkadang, anak-anak bertanya apakah mereka boleh berpuasa hingga ashar atau berhenti di tengah jalan, Ms. Mai pun memperbolehkannya dengan menekankan satu pernyataan ini,
“Mereka mau dan bisa berpuasa adalah suatu hal yang hebat dan patut diapresiasikan. Ketika memang mereka sudah tidak sanggup, maka biarkanlah. Jangan dipaksa. Mereka masih anak-anak dan masih dalam proses pembelajaran. Terlebih ini adalah kali pertama untuk mereka. Ketakutan lainnya yang dapat terjadi adalah, mereka memang benar-benar tidak bisa menahannya sehingga berakhir pada sakit lambung atau muncul rasa sakit lainnya”.
- Berikan contoh nyata
Tidak hanya mengajarkan kepada anak, kita para orang tua harus menjadi tauladan bagi mereka. Anak akan selalu mengikuti apa yang orang tua mereka lakukan.
Ketika mendapatkan masukan dan perintah dari orang tua, anak akan dengan cepat mencerna dan mengingatnya. Jika kita turut melakukan setiap hal yang kita perintahkan kepada anak, maka anak akan semakin mengerti dan melakukannya.
Kami bertanya kepada Ms. Mai, bagaimana metode belajar berpuasa miliknya yang diajarkan kepada anak-anak, apakah memang dipraktekkan ketika sedang bulan Ramadhan atau memang di luar bulan tersebut. Ia menjawab, “Bulan Ramadhan”.
Anak-anak akan secara langsung melihat bagaimana orang di sekitar bahkan orang tuanya berpuasa sama seperti dirinya. Jika mereka belajar berpuasa di luar bulan Ramadhan, hal tersebut akan membuat mereka menjadi merasa lebih kesulitan. Hal ini adalah alasan yang diberikan oleh Ms. Mai ketika menjawab pertanyaan sebelumnya.
- Buat mereka sibuk dengan hal lain
Pernahkah merasa waktu berjalan dengan sangat cepat ketika sedang melakukan suatu hal?
Hal ini dapat kita jadikan sebagai metode untuk membuat anak tidak merasakan hal yang serupa. Kita akan membuat mereka sibuk dengan setiap hal yang mereka kerjakan hingga tidak merasa jika waktu telah berlalu.
- Berikan penghargaan
Ketika anak belajar berpuasa, berikan apresiasi kepada mereka dalam bentuk apapun. Anak akan merasa bahagia dan merasa seperti melakukan hal yang benar ketika mereka disanjung atau diberikan penghargaan.
Seperti Ms. Mai yang selalu memberikan hadiah kepada anak didik di kelasnya yang mampu berpuasa. Ia akan memberikan apresiasi melalui bingkisan atau amplop untuk setiap anak yang berpuasa. Ms. Mai pun mengungkapkan dengan kesimpulan bahwa wajah bahagia dengan senyuman lebar wajah anak-anak adalah hal yang paling sulit dilupakan.
Jadi bagaimana Sahabat SIHI?
Beberapa metode di atas kami berikan untuk membantu kalian mengajarkan puasa kepada anak. Namun, kembali lagi kepada kepribadian dan kemampuan anak. Berbagai metode baik dapat kita tempuh untuk membuat anak memahami dan melakukan ibadah puasa dengan baik.
Satu hal pasti yang harus tetap diingat adalah, Anak mendengar, anak merekam. Anak Melihat, anak meniru.
Tetap semangat mengajarkan mereka untuk beribadah kepada Allah SWT. Ketika mendapati diri kalian lelah dalam mengajar, ingatlah jika anak akan lebih merasa kesulitan dan kelelahan dalam belajar hal baru. Bertahap dan ajarkan dengan baik.
Mari kita tuntun anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholehah!






